Senin, 09 Februari 2026

Kanyaah

 Kamu pasti sedang berdoa agar hari ini matahari menyimpan hujannya untuk esok saja. Atau mungkin kamu sedang berdialog dengan rintik hujan untuk  menyimpan amukannya di balik awan saja. Kamu selalu melakukan itu. Segala hal yang tak baik di sekitarmu, akan lebih ringan tersapu oleh kebesaran hatimu.

Pernah berpikir apa yang membuatmu berumur panjang? Barangkali karena kamu selalu mengangguk, tersenyum, lalu mengusap kepalaku pada setiap permintaan maaf yang berulang kali keluar dari mulutku  —   beberapa kali juga dari hatiku. 

Rasanya, tulisanku memiliki beragam nyawa jika kamu yang menjadi raganya. 

Berapa kali kita merayakan hari ini? Tidak ada lilin yang kamu tiup di depanku. Selalu, tidak ada kue ulang tahun di semua perayaanmu. 

“Aku hanya minta waktumu, itu saja cukup.”

Kamu selalu mengesampingkan dirimu, bahkan kadang kamu sembunyikan keinganmu jauh dari tempat yang bisa dijangkau oleh matamu. Tetapi untuk aku, untuk orang yang selalu ada di dalam doamu, kamu selalu berdiri paling depan dengan keringat paling bercucuran. 

Setidaknya beberapa bunga yang layu, kita rawat perlahan hingga menjadi tunas yang baru. Yang tak serupa seperti sedia kala, tetapi masih sama. 

Terima kasih telah  memilih untuk saling pulang dalam perjalanan panjang yang melelahkan ini. Pada persimpangan yang mungkin akan berbayang semu, semoga kita berdua mampu membuatnya nyata hingga melebur bersama waktu. 

Aku ingin selalu ada di dalam doamu; setiap sepertiga malam atau bagian — bagian dialog kamu denganNya. Aku ingin selalu ada di sana. Barangkali itu yang membuat kita saling terjaga. Barangkali itu yang merawat kita. Barangkali dialah airnya yang menjaga kuncup bunga kita. Barangkali, itu, yang membuat kita berlari jauh tetapi selalu kembali ke pulang yang sama. 

Selamat merayakan hari ini! Semoga umurmu lebih panjang setidaknya satu hari dari pada aku di dunia. Sebab kamu merawat doa sebagaimana ia adalah kuncup bunga yang akan mekar, kamu akan dengan mudah memegang surga. 

Semoga semesta senantiasa merawat kita. Aku di sini, tidak kemana — mana. Satu jengkal dari kasih sayangmu. 

ditulis oleh, Pagi.  


Selasa, 27 Januari 2026

Rafa Amira Winandari

 Rafa! Dalam perjalanan waktu yang begitu lama dan pelik, akhirnya kita diberi kesempatan untuk saling mengenal dengan begitu baik. 

“Zup info loker” 

Sampai hari ini kamu sulit meluangkan waktu untukku! You growing up so fast juga, Rafa! Aku happy banget. 

Dalam beberapa perjalanan, kita beririsan dalam hal baik — relawan pengajar — Sumbang Kain — bagi sembako. Tanpa kamu sadar, hal kecil yang kamu bangun berdampak besar untuk orang — orang seperti aku Rafa! Caramu ringan tangan, cara kamu menyayangi orang, cara kamu berbuat baik itu menular ke aku, Rafa. Terima kasih ya sudah berkenan terus ada di sini.

Hari — hari sebelum perayaan

 Aku tidak mempersiapkan kue penuh krim susu manis dengan sebuah strawbery di dekat lilin ulang tahun. Aku menjalani hari sama seperti seorang penjahit merpikan kembali benang — benangnya yang kusut. Sejak perayaan terakhirku 2025 lalu — hingga hari ini.

Bulan akhir 2025, diawali kedatangan sebuah badai yang memporakporandakan pohon rimbun dengan buah — buah yang siap di panen. Aku lebih dari kata rapuh, entah apalah itu tapi aku berhasil tidak meminta lengan siapapun kecuali kekasihku. Ia memang selalu begitu, selalu mengerti hal — hal yang aku sendiri tidak mengerti. Kami berempat, selalu bertumpu pada kebaikan dan kelembutan hatinya.

Tidak hanya satu, penantian pendidikan setahun ke belakang juga seperti percikan korek api yang menyala kecil lalu kembali padam. Bukan jodohku, katanya — Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, bertumpu pada pendidikan yang tidak mengganggu kelembapan kantong menjadi sebuah kebiasaan. Maka dari itu, kesempatannya tidak begitu banyak. Tetapi ya sudah, hidup harus tetap berjalan, katanya —

Di minggu akhir, aku kembali meraba kehidupan untuk mencoba kegagalan mana lagi yang harus aku temui. Mendampingi sebuah pameran lukisan di kotaku sendiri merupakan sebuah mimpi kecil tak terucap. Sama seperti hidup bersinggungan dengan manusia — manusia kepala seni. Membawakan acara, memadukan keanggunan kain di badanku, memberi olesan merah muda di ujung kelopak mataku, di minggu itu aku lebih banyak bersolek dari pada hari biasanya.

Menyambut bulan Januari dengan pertengkaran kecil antar aku dan kekasihku. Tidak begitu menyenangkan.

Januari kuhabiskan dengan nafas panjang, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarku. Membiarkan jendela kamarku terbuka, angin — angin sendakala sesekali mampir mengusap pipiku, lalu kembali meneguk kopi yang lepas dari gula setelah sekian lama. Begitu — begitu saja, tumpukan buku mengantri dibaca, menyalakan lagu yang tak kusuka tapi mengalun terus di telingaku dengan bahasa asing. Aku menyukai setiap sore yang tidak melakukan apa — apa.

Hari — hari sebelum perayaan, aku ingin sesuatu yang beda dan tidak biasa saat perayaan tiba. Sebelumnya, 2025 aku panen teman. Maksudnya, tak terhitung berapa banyak aku berkata “Hallo, aku Zufara” kepada sorot mata yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Hal itu menjadi pembuka pembicaraan, menawarkan kenyamanan pertemanan, lalu menandatangani apakah pertemannya akan berumur panjang atau cukup dengan satu salaman.

Aku membuat kotak untuk mereka. Apakah ini hal yang janggal untuk kalian?

Maksudnya begini, terdapat beberapa kotak teman di hidupku. Mereka yang terikat antar keluargaku, mereka yang obrolannya cukup lama terjebak di bangku perkuliahan, mereka yang memburu buku — buku, mereka yang pikirannya terbuka untuk apa saja, mereka yang merayu — rayu canvas, dan semuanya. Dengan begitu aku dapat memperbaiki posisi dan porsi diri saat bersama mereka.

Hari berjalan begitu cepat, menjmpai 27 Januariku. Jauh — jauh hari aku telah mengemas sebuah memori terkait perjalanan kereta api dengan perbukitan hijau dan kopi hangat di gerbong. Tetapi dalam satu hari satu malam sebelumnya, tangis pecah di dalam kamarku. Aku tidak mudah membuatnya kembali kering. Yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya adalah mengorbankan waktuku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak berada di gerbong kereta. Hari ini, satu kejutan telah hadir di hidupku. Secangkir kopi dengan infused bluberry, kesukaanku.

Ini baru pukul dua belas siang, masih ada dua belas jam lagi untuk aku menghabiskan hari ini.

Inas Fadiyah Hanin

 Hallo, Ibu Ikan!

Tuhan baik banget ya Mba? Di beberapa hal yang tidak kita terima, justru menjadi titik untuk peretemuan kita. Sebelumnya aku tidak pernah percaya, bahwa akan ada orang yang selalu dengan lapang dada menerima aku dan semua kerumitanku sebagai teman. Jujur aja, di beberapa pertemanan aku menutup diri dan hanya ke beberapa orang aku telanjang atas lukaku, atas kurangku. Terima kasih sudah menerima aku, Mba.

Mba Inas, selain jadi ibu ikan kamu harus tau kalo kamu adalah bunga yang sangat wangi. Kamu adalah kecintaan semua orang atas teman. Kamu membawa wangimu ke beberapa tempat dan tentu orang di sekitarmu akan merasakannya. Kamu terlalu baik untuk jadi manusia, Mba Inas. Kamu ibu peri.

Barangkal ada doa — doamu yang belum sampai Tuhan, aku akan selalu bantu aminkan. Aku pun akan mendukung kamu akan apapun! Termasuk meletakkkan hatimu di cangkir kopi susu, I do.

Afda Herdyta Alvonica

 Afda, its been a long day to see you. Terakhir melihat kamu di pesta perinikahan. Kita sebenarnya saling membelakangi atas cerita kita masing — masing Da. Tapi engga tahu apa yang membuatku selalu merasa kalo kalo kamu itu dekat, kamu itu ada di sini.

Da, aku salah satu orang yang bahagia saat melihat kamu menemukan telapak tangan yang tepat untuk kamu genggam sepanjang waktu. Sampaikan salam untuk Mas Pacarmu, sampaikan juga rasa terima kasih karena sudah memilih kamu menjadi wanitanya. Dia laki — laki yang beruntung, Da. Kamu begitu berharga dan layak untuk dicintai. Terima kasih sudah berkenan untuk terus ada di sini meskipun tidak begitu banyak cerita yang kita saling tukar ya Da. 

Terima kasih juga sudah menjadi sulung yang kuat, secara tidak langsung kamu mengajarkanku untuk demikian. Aku berkaca ke kamu Da. Terima kasih ya? Jangan lupa air putih, chupa chups its okey tapi tetap diimbangi makanan sehat dan pengurangan gula ya? Hidup lebih lama Afda, kamu kalo tua cantik banget pasti semua cucumu minta dimasakin masakan nenek terus! 

Yuswinardi

 Mas Yus! Terima kasih sudah selamatkan aku. Meskipun aku tau habis baca ini Mas Yus pasti mesem — mesem gak mau dipuji. Tapi asal Mas Yus tau, yang mengubahku selain diri aku sendiri ya Mas Yus. Terima kasih sudah selalu percaya atas segala “pertama kali” di hidupku. Dari yang pegang mic masih tremor, sampai akhirnya aku bisa babat habis pertanyaan bahkan di bidang yang belum terlalu lama aku geluti. Terima kasih Mas, hal baik menyertai Mas Yus dan keluarga!

Tiara Septia Ningrum

 Hai Ti! Pertanyaan apakah surat akan sepadan dengan kehadiran? 

Jawabannya tentu tidak akan, Ti! Tidak akan pernah sepadan. Aku pun berterima kasih atas kehadiranmu Ti, terima kasih sudah terbuka dan mengajakku berani untuk berbicara apa saja. Untuk berpikir bebas selayaknya manusia, bukan mengkotakkan diri sebagai perempuan dan laki — laki. 

Kamu adalah salah satu orang paling berani, you must be know that. 

Seakan dunia telah berada di tanganmu, dengan atau tanpa kamu bertarung kamu akan menang atas pengetahuan dan cara berpikirmu. Senang bertemu dengan kamu, Ti. Tiga hari lagi aku temenin di pelaminan ya. Terima kasih sudah berani juga untuk memilih Ti, hal baik terkait pernikahan dan keibuan sudah menunggu di sebrang. 

Kanyaah

 Kamu pasti sedang berdoa agar hari ini matahari menyimpan hujannya untuk esok saja. Atau mungkin kamu sedang berdialog dengan rintik hujan ...