Kamu pasti sedang berdoa agar hari ini matahari menyimpan hujannya untuk esok saja. Atau mungkin kamu sedang berdialog dengan rintik hujan untuk menyimpan amukannya di balik awan saja. Kamu selalu melakukan itu. Segala hal yang tak baik di sekitarmu, akan lebih ringan tersapu oleh kebesaran hatimu.
Pernah berpikir apa yang membuatmu berumur panjang? Barangkali karena kamu selalu mengangguk, tersenyum, lalu mengusap kepalaku pada setiap permintaan maaf yang berulang kali keluar dari mulutku — beberapa kali juga dari hatiku.
Rasanya, tulisanku memiliki beragam nyawa jika kamu yang menjadi raganya.
Berapa kali kita merayakan hari ini? Tidak ada lilin yang kamu tiup di depanku. Selalu, tidak ada kue ulang tahun di semua perayaanmu.
“Aku hanya minta waktumu, itu saja cukup.”
Kamu selalu mengesampingkan dirimu, bahkan kadang kamu sembunyikan keinganmu jauh dari tempat yang bisa dijangkau oleh matamu. Tetapi untuk aku, untuk orang yang selalu ada di dalam doamu, kamu selalu berdiri paling depan dengan keringat paling bercucuran.
Setidaknya beberapa bunga yang layu, kita rawat perlahan hingga menjadi tunas yang baru. Yang tak serupa seperti sedia kala, tetapi masih sama.
Terima kasih telah memilih untuk saling pulang dalam perjalanan panjang yang melelahkan ini. Pada persimpangan yang mungkin akan berbayang semu, semoga kita berdua mampu membuatnya nyata hingga melebur bersama waktu.
Aku ingin selalu ada di dalam doamu; setiap sepertiga malam atau bagian — bagian dialog kamu denganNya. Aku ingin selalu ada di sana. Barangkali itu yang membuat kita saling terjaga. Barangkali itu yang merawat kita. Barangkali dialah airnya yang menjaga kuncup bunga kita. Barangkali, itu, yang membuat kita berlari jauh tetapi selalu kembali ke pulang yang sama.
Selamat merayakan hari ini! Semoga umurmu lebih panjang setidaknya satu hari dari pada aku di dunia. Sebab kamu merawat doa sebagaimana ia adalah kuncup bunga yang akan mekar, kamu akan dengan mudah memegang surga.
Semoga semesta senantiasa merawat kita. Aku di sini, tidak kemana — mana. Satu jengkal dari kasih sayangmu.
ditulis oleh, Pagi.