Dian, aku orang paling bangga dengan prosesmu juga. Terima kasih sudah mau keluar kandang dengan tidak menjadi pelukis kamar.
Dian tanpa kamu sadar, energi kita sama. Bukan aku mulai lebih dulu, tapi aku mulai lebih berani karena satu orang yang mengajakku untuk mencoba kegagalan. Saat aku merasakan itu sebuah hal yang aman dan justru bisa membuat berkembang, aku limpahkan ke kamu.
Aku inget betul gimana canggungnya aku meminta anakmu jadi wajah dari bukuku. Ternyata langkah itu membawa perubahan yang besar, Di. Kamu dikenal. Bukan karena lingkunganku yang besar dan memanjang, tapi karena keunikan lukisanmu. Kamu berhasil membuat sebuah benda mati menjadi bernyawa, Di.
Panjang umur dan aku akan selalu ada di sini, kapan pun kamu mau pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar