Selasa, 27 Januari 2026

Hari — hari sebelum perayaan

 Aku tidak mempersiapkan kue penuh krim susu manis dengan sebuah strawbery di dekat lilin ulang tahun. Aku menjalani hari sama seperti seorang penjahit merpikan kembali benang — benangnya yang kusut. Sejak perayaan terakhirku 2025 lalu — hingga hari ini.

Bulan akhir 2025, diawali kedatangan sebuah badai yang memporakporandakan pohon rimbun dengan buah — buah yang siap di panen. Aku lebih dari kata rapuh, entah apalah itu tapi aku berhasil tidak meminta lengan siapapun kecuali kekasihku. Ia memang selalu begitu, selalu mengerti hal — hal yang aku sendiri tidak mengerti. Kami berempat, selalu bertumpu pada kebaikan dan kelembutan hatinya.

Tidak hanya satu, penantian pendidikan setahun ke belakang juga seperti percikan korek api yang menyala kecil lalu kembali padam. Bukan jodohku, katanya — Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, bertumpu pada pendidikan yang tidak mengganggu kelembapan kantong menjadi sebuah kebiasaan. Maka dari itu, kesempatannya tidak begitu banyak. Tetapi ya sudah, hidup harus tetap berjalan, katanya —

Di minggu akhir, aku kembali meraba kehidupan untuk mencoba kegagalan mana lagi yang harus aku temui. Mendampingi sebuah pameran lukisan di kotaku sendiri merupakan sebuah mimpi kecil tak terucap. Sama seperti hidup bersinggungan dengan manusia — manusia kepala seni. Membawakan acara, memadukan keanggunan kain di badanku, memberi olesan merah muda di ujung kelopak mataku, di minggu itu aku lebih banyak bersolek dari pada hari biasanya.

Menyambut bulan Januari dengan pertengkaran kecil antar aku dan kekasihku. Tidak begitu menyenangkan.

Januari kuhabiskan dengan nafas panjang, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarku. Membiarkan jendela kamarku terbuka, angin — angin sendakala sesekali mampir mengusap pipiku, lalu kembali meneguk kopi yang lepas dari gula setelah sekian lama. Begitu — begitu saja, tumpukan buku mengantri dibaca, menyalakan lagu yang tak kusuka tapi mengalun terus di telingaku dengan bahasa asing. Aku menyukai setiap sore yang tidak melakukan apa — apa.

Hari — hari sebelum perayaan, aku ingin sesuatu yang beda dan tidak biasa saat perayaan tiba. Sebelumnya, 2025 aku panen teman. Maksudnya, tak terhitung berapa banyak aku berkata “Hallo, aku Zufara” kepada sorot mata yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Hal itu menjadi pembuka pembicaraan, menawarkan kenyamanan pertemanan, lalu menandatangani apakah pertemannya akan berumur panjang atau cukup dengan satu salaman.

Aku membuat kotak untuk mereka. Apakah ini hal yang janggal untuk kalian?

Maksudnya begini, terdapat beberapa kotak teman di hidupku. Mereka yang terikat antar keluargaku, mereka yang obrolannya cukup lama terjebak di bangku perkuliahan, mereka yang memburu buku — buku, mereka yang pikirannya terbuka untuk apa saja, mereka yang merayu — rayu canvas, dan semuanya. Dengan begitu aku dapat memperbaiki posisi dan porsi diri saat bersama mereka.

Hari berjalan begitu cepat, menjmpai 27 Januariku. Jauh — jauh hari aku telah mengemas sebuah memori terkait perjalanan kereta api dengan perbukitan hijau dan kopi hangat di gerbong. Tetapi dalam satu hari satu malam sebelumnya, tangis pecah di dalam kamarku. Aku tidak mudah membuatnya kembali kering. Yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya adalah mengorbankan waktuku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak berada di gerbong kereta. Hari ini, satu kejutan telah hadir di hidupku. Secangkir kopi dengan infused bluberry, kesukaanku.

Ini baru pukul dua belas siang, masih ada dua belas jam lagi untuk aku menghabiskan hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kanyaah

 Kamu pasti sedang berdoa agar hari ini matahari menyimpan hujannya untuk esok saja. Atau mungkin kamu sedang berdialog dengan rintik hujan ...