Kamis, 18 Juni 2020
Belum Selesai
Kembali sadar, yang dijalani barulah takdir sebagian. Yang telah membuat lelah, bukanlah bagian dari semua perjalanan.
Kembali sadar, yang patut dijinjing bukan hanya sebuah beban, tapi kenyataan.
Kembali sadar, menatap langit bukan lagi ketika biru, melainkan semua suasana termasuk kelabu.
Tak harus terburu-buru selesai, karna nantinya hanya berganti masalah.
Bagaimana cara bangun dari serangan semesta, semuanya membuat tidak baik-baik saja meskipun telah menatap hamparannya.
Kumpulan debu tak lagi tertiup, sudah pergi sendiri tanpa disuruh. Kiranya sudah tidak lagi berguna. Padahal aku sendiri akan mengukirnya diatas kaca mobil yang sudah lama tak terpakai.
Yang dihadapi adalah waktu. Yang diarungi adalah air mata sendiri.
Apakah perlu, sebentar bersama kawan?
Tersentak dari lamunan penuh pikiran.
Hidup adalah perjalanan usaha yang tidak ada henti sebelum mati.
Jangan biarkan diri diatur semesta, tidak semestinya.
Teruslah pada jalan yang kau tunggu tujuan, menepi buka berarti untuk pergi.
Sampai kepada hilang bicaramu, sirna akalmu, hening nafasmu, berbaring dengan tanah dan bilah kayu.
Setelah itu, tidak ada keharusan untuk lupa.
Jalanlah dengan rencana baru tanpa nafas, diruang baru tanpa dunia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
siapa yang paling terang
tak ada warta, tak ada warna menjenguk arang yang ditinggalkan apinya menyapa tanah basah yang kehilangan jejaknya memanggil hujan dengan...
-
Untuk segala pelik yang dirasa hari ini. Ruang yang kau buat dalam diriku, pun juga milikmu. Boleh disini sampai kapanpun. Sampai pulih, dan...
-
terkadang waktu bagai buku lapuk yang tergeletak menyaksikan manusia meninggalkan jejak bergerak ke rumah pengabdian, beranjak dari keny...
-
tak ada warta, tak ada warna menjenguk arang yang ditinggalkan apinya menyapa tanah basah yang kehilangan jejaknya memanggil hujan dengan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar