Rabu, 22 Desember 2021

Ratna Tanah Kinasih (Kedua Kakak Merenggut Nyawa)

 Dibentuk dengan tanah yang kini bernyawa, telah lahir dari sebuah rahim berpengalaman dua kali sebelumnya. Ratna Tanah Kinasih hidup menjadi anak kesayangan karena anak satu-satunya setelah 2 kakaknya memutuskan gantung diri bersama, karena keluarga yang bahkan tidak ada bahagianya. bapak dan ibu yang tidak pernah berbincang meski hanya satu kata setiap harinya, selain karena Ibu yang kini tidak lagi bisa bicara hanya tebaring menemani ranjang sesekali meminta makanan, Bapak dan Ibu juga sudah tidak ada rencana yang sama. maka dari itu, mereka tidak akan kembali membangun dunia. mereka sekarang hanya menikmati sisanya dan menunggu waktu merenggut hidup menjemput mati. entah satu persatu atau dua menjadi satu, aku tidak tau apakah mereka akan saling menangis? setelah yang mereka lewati saling menyakiti, saling membenci bumi.


sehari sebelum ku dilahirkan, Bapak dan Ibu masih sama-sama dalam satu mesin jahit, membuat selimut hangat yang sampai aku berumur 20 tahun sekarang masih yang paling hangat. sehari sebelum aku dilahirkan, mereka telah menelantarkan ego dan mengais penyesalan. Pertama kalinya sama-sama merancang perbaikan untuk anak ketiga yang satu-satunya. menulis apa saja yang ingin anaknya punya, menulis apa saja yang ingin anaknya bisa, menulis apa saja yang anaknya harus, menuntut anak untuk menjadi apa yang diminta. itu mereka berdua, dua kepala yang mengasuh satu anak setelah kedua anak sebelumnya merenggut nyawa. merenggut nyawa. merenggut nyawa. dibaca tiga kali pun tidak akan membuat mereka kembali hidup, telah tenang tanpa nyawa. Lebih tenang tanpa nyawa. nyawanya dihabisi sendiri. bergantung diri di balkon rumah dini hari. alasannya sama, karena Ibu Bapak adalah dua kepala tidak ada yang mau kalah. masing-masing dari mereka mengatakan sama-sama berperan. sebagai orang tua yang padahal tidak pernah menjadi orang tua, hanya sekali saja. saat aku meninggalkan rahim setelah Sembilan bulan
lamanya, mereka berpelukan hangat dan bapa mengumandangkan Adzan tepat di telinga. mungkin itu terakhir kalinya mereka sama-sama memeluk, setelah aku ada di dunia.

Namun, aku tidak pernah menjadi seorang anak. dua dari mereka terlalu sibuk berencana untuk memebesarkanku, dua kepala mereka berencana berbeda, sibuk berencana hingga lupa anaknya sudah tumbuh dewasa tanpa peran mereka. berumur 20 tahun, mereka masih berencana. dengan dua kepalanya, dengan dua mulutnya yang terbiasa beradu, dengan dua tangan dan kaki yang terbiasa menyakiti.

jika aku telah menjadi dua, mereka damai. mengasuh sebagian dariku dengan cara dan egonya maisng-masing. jika aku menjadi dua, mereka bercerai. semakin berantakan keduanya. mereka kira suara marah dibalik dinding menguning yang hanya setebal beberapa cm itu tak ku dengar, padahal sudah mulai ingin roboh ini rumah rasanya. terus menerus ditusuk kata perkata sakit.

Tanah yang ku selipkan di tengah namaku itu, aku sendiri yang menambahnya. sebelumnya namaku hanya Ratna Kinasih. jangan berpikir itu adalah nama atas persetujuan mereka berdua, tidak. Mereka tidak pernah satu tujuan, selalu berbeda.

Ibu memberiku nama Ratna yang berarti permata. ya, ia menganggap janin kecil yang menyesaki perutnya itu adalah sebuah permata hidup yang akan membuatnya hidup juga. jika sang permata mati, ia turut serta katanya. karena, tidak ada lagi tugasnya di dunia selain menjaga permata. sedangkan Bapak saat itu ingin memberi nama Kinasih karena aku lahir sebagai anak harapannya, Kinasih yang berarti kesayangangan. sepertinya ia begitu menyayangiku saat aku pertama kali bernafas. pertama kali bernafas, tidak tau hari ini.
kedua kepala setelah Bapak Adzan di telingaku, mereka berdebat, mengeluarkan pendapatnya masing-masing, beradu peran, membuat seluruh ruangan rumah sakit menjadi riuh dengan dua suara itu, suara yang tak pernah diam dan ingin selalu paling lantang dan paling di dengar, sampai telapak tangan Bapak menyentuh keras pipi Ibu yang telah berusaha mengeluarkan permatanya. yang hampir saja kehilangan nyawanya setelah mengeluarkan permatanya, yang hampir saja bertukar hidup setelah mengeluarkan permatanya, Bapak melayangkan telapak tangannya pada pipi yang basah itu. hanya perdebatan sebuah nama. hanya berjarak satu jam setelah aku dilahirkan. akhirnya mereka dilerai dengan seorang dokter dan petugas keamanan. Saat itu pertama kalinya mereka menyatukan dua pikiran, jadilah namaku. Ratna Kinasih. Ya, Bapak memanggilku Kinasih saja tanpa Ratna. Begitu juga Ibu yang memanggilku Ratna saja, tanpa Kinasih. Padahal keduanya sama-sama berarti baik, entah bagaimana jalan pikiran mereka. Mungkin tidak mau baiknya kebanyakan? namaku adalah satu satunya bukti dua kepala mereka pernah menjadi satu. Ratna Kinasih. hanya satu-satunya, tak terhitung berapa yang gagal dan terus bertengkar sampai lelah sendiri.

aku mengerti, mengapa kedua kakaku memilih untuk sudah keepada dunia. masa kecilku? bayangkan saja satu kejadian yang barusan kuceritakan hanya satu jam setelah aku dilahirkan. sekarang aku berumur 20 tahun, yang dimana aku telah melewati lebih dari lima ribu jam dengan suara mereka, dengan rupa mereka yang semakin tua tapi sifatnya sama sekali tak berbeda. aku menyaksikan Bapak membuat Ibu bersahabat dengan ranjangnya. aku menyaksikan Bapak yang membuat Ibu kehilangan suaranya dan tidak lagi bicara. ini cara Bapak untuk menyudahi perdebatannya dengan Ibu. setelah setengah abad umur pernikahan mereka.

jika saja saat itu Bapak lebih menyelamatkan hak Ibu untuk menjadi remaja pada umumnya. tidak memaksa Ibu untuk menikah. jika saja saat itu Eyang KUng tidak membuat rumit hidupnya sehingga mengorbankan seorang anak perempuannya untuk menjadi tebusannya. Mungkin Ibu baik-baik saja, mungkin aku dan kedua kakaku tidak ada di dunia. Masih di alam sana, menunggu siapa yang siap menjadi orang tua?

Ibu adalah wanita yang dipilih untuk menjadi Ibu secara terpaksa, dengan menghilangkan hak membela dirinya.

aku berharap dengan Tanah di tengah namaku, aku segera memeluknya. berada saja di dalamnya. jauh dari dinding menguning itu. jauh dari suara dua manusia yang seharusnya menerima kehadiran anaknya. anak satu-satunya. di dalam sana aku akan mengenal dua sodara yang tak pernah ku temui. yang mungkin merasa sama, sama-sama lebih baik terkubur tanah. dari pada kedua telinga terus menerus mendengar kabar tidak bahagia setiap harinya.

jika perceraian adalah keputusan terbaik untuk memisahkan mereka, mengapa tidak juga? jika mereka masih terus menerus memenggal telingaku dengan suara-suara itu, mengapa masih juga menjagaku?

jika aku satu-satunya permata kesayangan mereka, seharusnya mereka menyentuh kulitku bak sekali saja, untuk aku merasa kedua orang tua bukan monster mengerikan. untuk aku merasa aku berperan di dunia sebagai seorang anak mereka, bukan manusia tidak ada guna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

siapa yang paling terang

tak ada warta, tak ada warna  menjenguk arang yang ditinggalkan apinya  menyapa tanah basah yang kehilangan jejaknya  memanggil hujan dengan...